Senin, 25 Februari 2008

Rabu, 20 Februari 2008

Itik dan Telur meningkatkan ekonomi pedesaan

LAMPUNG POST
Selasa, 15 Januari 2008

AGROBISNIS ITIK DAN TELUR

Berprestasi karena Itik
BUDI daya itik sebagai salah satu ternak unggas masih tetap menjanjikan keuntungan, baik untuk diambil daging maupun telurnya. Pemeliharaannya pun mudah.
Dengan teknik budi daya semi-intensif, Kelompok Tani (KT) Panca Usaha III, yang berada di Desa Mulyosari, Kecamatan Metro Barat, mampu mendongkrak penghasilan keluarga 22 anggotanya. Bahkan, karena keberhasilannya, kelompok yang membudidayakan itik secara kolektif sejak tahun 2002 ini menjadi juara pertama pada lomba kelompok peternak se-Provinsi Lampung, pada bulan Juli 2007.
Untuk tingkat nasional, melalui lomba kelompok agrobisnis unggas lokal tingkat nasional tahun 2007, Kelompok Tani Panca Usaha III menempati urutan VIII, sehingga mereka mendapatkan bantuan dana dan piagam penghargaan dari Direktorat Jenderal Peternakan RI.
Mulyata (37), ketua kelompok, mengatakan prestasi yang didapat ini tak terlepas dari peran aktif Dinas Pertanian Kota Metro.

"Kini kami tak hanya menghasilkan telur, tapi juga sudah mampu menyedikan bibit untuk dijual, pembuatan telur asin, penyediaan daging itik, hingga menjual mesin tetas telur itik," ujar Mulyata.
Dari 2.000 ekor itik tahun 2002, itik kelompok ini telah berkembang menjadi lebih dari 7.000 ekor yang setiap hari mampu menghasilan paling sedikit 4.000 butir telur. "Bahkan jika sedang memasuki panen raya, produksi telurnya dapat mencapai 6.000 butir per hari," kata Mulyata.
Itik-itik ini dipelihara semi-intensif, bergantung pada musim. "Pada dasarnya itik memang merupakan hewan yang tidak bisa jauh dari air, maka dalam memeliharanya kita juga harus memperhitungkan ketersediaan air," ujarnya.

Saat musim kemarau, itik dikandangkan kemudian diberikan pakan buatan dan perawatan secara intensif. Cara ini lebih menguras modal karena biaya pembelian pakan cukup besar.
Namun, melalui bantuan pemerintah pusat, kelompok ini telah memiliki mesin giling pakan dan berbagai mesin lain, termasuk mesin penetas, sehingga ongkos produksi tidak terlalu besar lagi.
Untuk menambah penghasilan anggota, pada musim kemarau juga dilakukan pembibitan itik menggunakan mesin penetas. "Ketika musim kemarau memang tingkat keberhasilannya cukup tinggi karena jarang ada penyakit," ujar Mulyata.
Memasuki musim hujan, kegiatan usaha difokuskan pada produksi telur dengan menggembalakan itik di areal persawahan yang sudah panen. Teknik ini sangat menguntungkan karena produktivitas telur itik sangat tinggi, sedangkan peternak tak memberikan pakan tambahan. Namun, ada biaya untuk memindahkan itik dari areal persawahan yang satu ke tempat lain.

Kini, ujar Mulyata, permintaan akan bibit itik sedang meningkat. Sebanyak 15 unit mesin penetas berkapasitas 300 butir telur yang di miliki kelompok ini, mampu menghasilkan 10 ribu lebih bibit itik. "Dengan masa penetasan 28 hari, bibit itik sudah bisa dijual pada usia 1--5 hari. Jika dirawat dengan baik, itik sudah bisa bertelur pada usia 5 bulan dengan harga jauh lebih tinggi," ujar Mulyata.
Selain digunakan kelompok sendiri, bibit itik yang dihasilkan juga dijual kepada masyarakat atau untuk memenuhi proyek pemerintah pengadaan bibit itik. "Kalau masyarakat umum biasanya pesanannya hanya ratusan, sedangkan proyek pengadaan bisa mencapai ribuan," ujar Mulyata.
Kelompok tani ini menjual bibit sesuai dengan masa pertumbuhan. Bibit usia 1--5 hari dijual Rp6.500, usia 1--4 bulan antara Rp20 ribu dan Rp30 ribu, sedangkan bibit yang sudah siap bertelur Rp35 ribu hingga Rp37 ribu.
Mulyata optimistis budi daya itik ini makin berkembang. Pasalnya, harga telur itik meningkat. Tahun lalu harga telur itik mentah masih Rp700 sedangkan telur asin Rp1.000. Sekarang, telur mentah Rp1.000 dan telur asin Rp1.500. Ditambah lagi pasar telur itik masih sangat luas. n SUDIRMAN/R-2

Rp. 300 Juta per Tahun dari Kebun Durian

LAMPUNG POST
Selasa, 22 Januari 2008

AGROBISNIS DURIAN MONTHONG

Monthong, Mahal Tetap Dicari
DAGING buahnya sangat besar dan tebal seperti bantal. Warnanya kuning keemasan dan bijinya kecil-kecil dan kempes. Sebab itu, ada juga yang menyebutnya si bantal emas (golden pillow).
Kerabat Durio zibethinus ini berasal dari Kalimantan Barat. Akan tetapi, ada juga yang menyebutnya dari Thailand meski sejumlah sumber menjelaskan Thailand hanya melakukan pemuliaan.
Durian monthong merupakan tanaman genjah. Mampu berproduksi pada umur 4--5 tahun sejak ditanam dengan bibit asal sambung pucuk. Produksi buahnya cukup banyak. Mampu beradaptasi pada berbagai tempat. Bobot buahnya mampu mencapai 6 kg. Kulitnya tebal dengan warna hijau.

Sayang, tanaman ini tidak mempunyai ketahanan terhadap penyakit Phytophthora sp.
Karena berbagai keunggulan tersebut, sejak beberapa tahun terakhir, Dalno (58) mengembangkan tanaman tersebut. Warga Desa Pekalongan, Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur, telah menuai hasilnya.
Di lahannya seluas 1.200 meter persegi yang terbagi dalam dua lokasi, kini ada 150 batang durian monthong berbagai usia.
Tanaman yang berusia 4--5 tahun, kini sedang berbuah lebat. "Tahun ini memang produktivitasnya meningkat dibanding dengan tahun lalu, harapannya memang seperti ini, dari tahun ke tahun terus ada peningkatan," ujar Dalno di kebunnya di Desa Gantiwarno, Kecamatan Pekalongan.
Setiap batang pohon memiliki 30--50 buah dengan bobot buah 4--8 kg/buah. "Untuk buah yang super, bobotnya bisa mencapai 10 kilogram, tapi memang agak jarang," ujarnya saat menunjukkan buah durian yang paling besar.

Untuk memasarkannya, Dalno tak perlu bingung karena selama ini durian monthongnya sudah dikenal rekan-rekannya yang biasanya datang sendiri untuk menikmati buah ini di kebun atau membawa pulang sebagai oleh-oleh. "Bahkan, kini sudah ada orang yang memesan buah dengan memberikan uang jaminan. Mungkin takut tidak kebagian," tambah pria yang tinggal di Jalan Nurul Iman ini. Kini, Dalno menjual durian monthong miliknya Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.
Tak hanya buah, kenalannya yang datang juga banyak yang mencari bibit monthong untuk ditanam. "Bibit durian monthong juga bisa menjadi tanaman hias, karena meski ukurannya pohonnya lebih kecil, durian ini sudah bisa berbuah lebat dan sedap dipandang," tambahnya.

Bagi warga yang berminat membudidayakan durian monthong, Dalno juga berharap mereka segera membuka lahan, mengingat pasar yang masih sangat luas dan menjanjikan di masa mendatang.
Di rumahnya, Dalno juga aktif memproduksi bibit durian monthong. Karena permintaan bibit durian jenis ini juga cukup tinggi. Bibit yang dijual Dalno merupakan bibit yang dihasilkan dari proses okulasi, antara bibit lokal dan bibit durian monthong.
Ia mengungkapkan kini banyak penjual bibit durian monthong atau bibit durian dari jenis lain yang menjajakan bibitnya. Namun, tidak mudah mendapatkan bibit durian monthong yang baik. Dibutuhkan beberapa persaratan, salah satunya, bibit merupakan hasil okulasi dari pohon durian monthong yang sudah terbukti produktivitasnya.
Untuk menghasilkan bibit yang baik dibutuhkan waktu dan proses yang panjang. Begitu pula dalam perawatan bibit saat ditanam di lahan.
Untuk hasil maksimal, menurut Dalno, selain dari keaslian bibit, juga dibutuhkan perawatan yang baik, berupa pemupukan yang berkala, dan juga pengendalian hama dan penyakit, mengingat durian monthong agak peka terhadap penyakit.

Dalno menjual bibit durian monthong berdasar pada usia bibit dan tingginya. Bibit usia 1 tahun dengan tinggi 60 centimeter dijual Rp10 ribu. Sedangkan bibit usia 2 tahun dengan tinggi 1 meter dijual Rp60 ribu. Tahun ini saja, Dalno telah mampu menjual 15 ribu bibit, yang sebagian besar masuk program pengadaan bibit oleh pemerintah daerah.
Dalno juga tengah berupaya agar pohon durian monthongnya dapat berbuah sepanjang tahun. "Cara ini sudah diterapkan di Thailand, saya pikir hal ini juga bisa diterapkan di sini. Terutama karena nilai jual durian monthong masih sangat tinggi. Apalagi jika sedang tidak musim buah durian. Tapi, masih butuh beberapa tahapan," ujarnya.

Menghasilkan Bibit
Tanaman durian dapat diperbanyak melalui cara generatif (biji) maupun vegetatif--okulasi, setek, maupun sambung tempel.
Untuk mendapatkan bibit yang memiliki karakter yang sama dengnan pohon induk, sebaiknya digunakan cara vegetatif. Selain itu, dengan cara ini, bibit akan lebih cepat berbuah.
Salah satu cara vegetatif yang cukup populer adalah proses okulasi. Bibit yang dihasikan dari biji, ditempelkan dengan mata tunas pohon induk yang dianggap cukup baik. Bibit induk yang akan diambil mata tunasnya, sebaiknya dipilih pohon yang sudah dewasa dan memiliki produktivitas buah tinggi. Sedangkan bibit yang akan digunakan sebagai bahan okulasi atau batang bawah, dapat dihasilkan dari pohon durian yang mana saja.
Dalno mendapatkan biji untuk batang bawah dari pengumpul biji yang memungutnya di jalan-jalan di sekitar penjual buah durian. Pembibitan dimulai dengan menyemai biji di tanah yang dicampur pupuk kandang. Dalno menggunakan perbandingan 1:1 untuk campuran tanah dan pupuk. Tanah digali sedalam 40 cm hingga 50 cm, kemudian dibuatkan parit-parit agar memudahkan melewatkan air yang berlebihan, terutama jika pembibitan dilakukan pada musim penghujan.
Biji ditanam pada kedalaman 2 cm hingga 4 cm dalam posisi mendatar. Penanaman diatur pada jarak 20 x20 cm. Untuk melindungi biji yang disemai. Pada bagian atas bedengan, dapat diberikan paranet atau pelepah kelapa sebagai naungan. Perawatan yang dilakukan adalah penyiraman jika kondisi tanah kering, bisa juga diberikan pupuk tambahan agar memacu pertumbuhan.

Pada usia 1 bulan sejak ditanam, biasanya bibit akan mulai berkecambah. Namun, baru usia enam bulan bibit dapat di okulasi. Proses okulasi dimulai dengan menyiapkan mata tunas dari pohon intuk yang dirasa cukup baik.
Sedangkan untuk batang bawahnya dirontokkan seluruh daunnya. Okulasi dilakukan dengan menyayat bagian batang bawah setinggi 20 cm dari permukaan tanah. Sayatan berbentuk huruf U terbalik, dengan panjang sayatan kurang lebih 2 cm.
Sedangkan untuk mata tunas, disayat dengan ukuran yang lebih kecil dari sayatan pada batang bawah. Setelah sayatan pada batang bawah dipotong, mata tunas baru ditempelkan, kemudian dibalut dengan tali rafia atau plastik khusus--jangan sampai mata tunas tertutup balutan.
Pemeriksaan dilakukan pada 2 pekan atau 3 pekan setelah okulasi. Jika mata tunas berwarna hijau segar, proses okulasi berjalan baik. Sedangkan jika mata tunas berwarna cokelat atau kuning, proses okulasi gagal.
Perawatan lain, yaitu memangkas batang yang terdapat di atas mata tunas hasil okulasi. Selain penyiraman dan pengendalian hama penyakit jika ditemukan. Bibit hasil okulasi biasanya sudah bisa dijual atau ditanam pada usia 1 tahun atau lebih. n SUDIRMAN/R-2

Selasa, 19 Februari 2008

Rp. 8 ~ 17 Juta per bulan dari Kebun Kelapa Sawit

LAMPUNG POST
Selasa, 27 November 2007

AGROBISNIS KELAPA SAWIT

Dari Sawit, Syarif Panen Setiap Bulan .
ENAM tahun lalu, Syarif (40) adalah petani yang menanam singkong, kelapa, dan kakao.
Kini, ia adalah salah satu petani kelapa sawit yang sukses.
Mulai tahun lalu, Syarif telah menikmati panen sawit dari kebun yang luasnya sekitar 8 hektare di Desa Margamulya, Kecamatan Bumiagung, Lampung Timur.
Lahan tersebut terletak di tengah areal perladangan di atas perbukitan.
Dari kebunnya, setiap bulan, Syarif bisa panen 7--8 ton. Tanaman itu sendiri sudah mulai panen sejak umur tiga tahun, tapi saat itu hasilnya belum memuaskan.

Kini, karena pohon sawit itu masih rendah, untuk memetiknya cukup dengan kekrek--semacam pisau tajam di bagian ujung berbentuk pipih dan gagangnya terbuat dari besi panjang.
Alat ini biasa digunakan para buruh untuk memanen sawit atau memangkas daun sawit di bagian bawah, seperti yang dilakukan Suwarlan Bewok, buruh lepas bertahun-tahun bekerja di kebun milik Syarif.
Menurut Suwarlan, setiap pohon sawit di sana rata-rata hanya menghasilkan 10--15 kg. Padahal, kalau batangnya baik, bisa mencapai 25 kg. Biasanya, setiap batang mampu panen tiga tandan. Bobot maksimal di kebun ini hanya 30 kg. Akan tetapi, kata Suwarlan, tanaman sawit milik Syarif ini tergolong baik dibanding dengan kebun sawit milik warga lain.
Selain menjadi buruh tetap bersama Purwandi, Suwarlan mengaku pernah ikut menanam kebun dan memelihara tanaman sawit milik Syarif. Untuk mendapatkan pohon yang baik, pemupukan harus diperhatikan. Pupuk yang digunakan, yaitu NPK. Setiap batang, minimal dua kg pupuk kimia. Akan lebih baik lagi kalau ditambah pupuk kandang.

Namun, menurut Suwarlan, untuk membudidayakan sawit perlu modal besar. Bibit saja, setiap batang Rp6.000. Jika menanam di lahan luas, tentu modalnya besar.
Dalam satu hektare, minimal diperlukan 140 batang. Belum lagi biaya menggali lubang untuk diisi pupuk kandang dan pupuk kimia. "Minimal, empat tahun kami belum dapat menikmati hasil dari tenaman kelapa sawit, tapi setelah lima tahun pertama ketika mulai panen besar, hasilnya sudah bisa dirasakan," ujarnya.
Kini, jika setiap bulan Syarif panen 8 ton, dengan harga sawit Rp1.000/kg, dipastikan sudah Rp8 juta yang bisa dikantongi. Lalu, pada puncak panen, bulan Oktober, bisa mencapai 17 ton.
Purwandi, yang juga buruh angkut di kebun sawit milik Syarif ini, menilai menanam sawit tidaklah sulit. "Jika memiliki lahan luas, modal ada, dan tekun pasti berhasil. Akan tetapi, kalau cuma iseng, jangan coba-coba karena bisa dipastikan gagal," ujarnya.

Kini, yang menjadi soal adalah penjualan buah sawit. Syarif hanya memasok pabrik di Bekri, Lamteng. Jika di Bekri antre, sawit dijual ke Kalirejo, Lampung Tengah, pabrik baru yang juga mengolah minyak kelapa sawit. "Untuk menjual satu truk sawit sekitar 9 ton, terkadang kami harus antre sampai empat hari," kata Syarif.
Syarif mengakui walaupun penjualan sulit karena harus antre panjang, kini ia sedang menikmati hasil jerih payahnya. Empat tahun pertama, ia tak menikmati hasil dari kebun sawitnya.
Tanaman selingan seperti jagung dan singkong sangat mengganggu pertumbuhan sawit, sehingga ketika tanaman sawit sudah berumur dua tahun, lahan ini tidak dapat lagi ditanamai tanaman tumpang sari. Namun, kini ia tinggal memetik hasilnya. Hasil panennya pun langsung dibeli agen.

Syarif mengaku mulai tertarik menanam sawit ketika mendengar cerita teman-teman yang lebih dahulu sukses menanam sawit. Enam tahun lalu, sebelum menanam sawit, ia adalah petani jagung dan singkong seperti petani lain.
Setelah memperoleh pengetahuan cukup, ia mencoba menanam satu hektare sawit. Beberapa bulan kemudian, setelah pertumbuhan tanaman sawitnya baik, ia memutuskan menanami semua lahannya seluas 8 hektare dengan kelapa sawit. Ia menggunakan jarak tanam 10--15 meter jarak antara tanaman satu dengan yang lain.
Tiap bibit sawit ditanam dalam lubang satu meter persegi dengan kedalaman 50 cm. "Alhamdulillah, tanaman sawit sudah bisa menjadi tabungan tahunan maupun bulanan untuk anak dan istri saya," kata Syarif.
Menurut Syarif, sebaiknya disediakan pula sarana angkutan dan peralatan panen. Kini, Syarif memanfaatkan gerobak sapi untuk mengangkut hasil panennya.
Setelah tiba di desa, truk siap mengangkut sawit tersebut ke pabrik. "Angkutan kami masih sederhana karena mobil tidak dapat masuk kebun, makanya kami masih mengunakan gerobak sapi," kata Syarif.

n EDDY RIBUT HARWANTO/R-2

Puluhan Tahun Bekerja dan Hampir 1 Tahun Mencari ( 2 )

SEMUA MENJADI LEBIH BAIK

Seiring dengan berjalannya waktu, kerja keras yang dilakukan semenjak tahun 2002 tidak hanya berdampak kepada kebebasan finansial dan waktu tetapi kegigihan mereka yang justru menginspirasi anak-anak mereka, menjadi lebih baik. " Anak-anak kami tumbuh menjadi orang-orang yang punya fokus dan berani memperjuangkan impian-impian mereka.

Hal yang membanggakan adalah saat salah satu anak kami terpilih menjadi menjadi salah satu siswa terbaik. Dia melakukannya karena terinspirasi oleh kegigihan kami mengejar impian dan sukses dalam bisnis ini."


Kalau yang bertahun-tahun sudah menjadi Direktris di perusahan yang bukan kelas sembarangan, bahkan kelas dunia; tetap berusaha mencari dan menemukan Intelligent Solution, bagaimana dengan Anda yang masih belum menjadi Direktur / Direktris ???

Anda juga berhak untuk mendapatkan kehidupan yang luar biasa.

Klik pada gambar untuk memperbesar.



Puluhan Tahun Bekerja dan Hampir 1 Tahun Mencari ( 1 )

Hasil riset dan pertimbangan yang matang selama hampir 1 tahun, telah mengantarkan keluarga ini pada sebuah Intelligent Solution.
Puluhan tahun bekerja dalam bidang SDM di perusahaan otomotif terbesar di dunia, membuat Johana tahu betul falsafah perusahaan dimana dia bekerja. The Elegant Solution yang telah sangat sukses mengantarkan perusahaan tersebut menjadi nomor 1 di dunia, telah berhasil diserap dan diimplementasikan dalam suatu inovasi yang brilliant untuk menemukan Intelligent Solution bagi mereka.
Klik pada gambar untuk memperbesar.

Setelah 16 tahun dengan gelar Doktor S3 ( 2 )

MASA-MASA MENYENANGKAN
Setiap tahun mereka jalan-jalan ke luar negeri. Beberapa negara yang sudah dikunjungi antara lain : New Zealand, Thailand, Australia, Cina, South Africa dan Alaska. Daftar ini terus bertambah dengan kecepatan pertambahan 2 negara per tahun. Ada yang suka jalan-jalan gratis ???
P' Sutikno ingin berbagi resep kesuksesan, berdasarkan perjalanan yang telah dilaluinya. Sutikno meyakini bahwa mencapai kesuksesan bukanlah perkara yang mustahil.
" Asalkan kita mau menurunkan kadar ego dalam diri, mau belajar, melakukan dengan sungguh-sungguh, mau mengajarkan serta berdoa secara khusyuk, kesuksesan dan kebahagiaan akan mampu diraih."
So, rekan mahasiswa/i, rekan dosen dan pengajar, jangan sia-siakan
pelajaran dan resep kesuksesan dari P' Sutikno.
"Nothing is impossible, just do it !!!
Informasi lebih lanjut : Email saya atau HP : 0815-9949606
Klik pada gambar untuk memperbesar