LAMPUNG POST
Selasa, 22 Januari 2008
AGROBISNIS DURIAN MONTHONG
Monthong, Mahal Tetap Dicari
DAGING buahnya sangat besar dan tebal seperti bantal. Warnanya kuning keemasan dan bijinya kecil-kecil dan kempes. Sebab itu, ada juga yang menyebutnya si bantal emas (golden pillow).
Kerabat Durio zibethinus ini berasal dari Kalimantan Barat. Akan tetapi, ada juga yang menyebutnya dari Thailand meski sejumlah sumber menjelaskan Thailand hanya melakukan pemuliaan.
Durian monthong merupakan tanaman genjah. Mampu berproduksi pada umur 4--5 tahun sejak ditanam dengan bibit asal sambung pucuk. Produksi buahnya cukup banyak. Mampu beradaptasi pada berbagai tempat. Bobot buahnya mampu mencapai 6 kg. Kulitnya tebal dengan warna hijau.
Sayang, tanaman ini tidak mempunyai ketahanan terhadap penyakit Phytophthora sp.
Karena berbagai keunggulan tersebut, sejak beberapa tahun terakhir, Dalno (58) mengembangkan tanaman tersebut. Warga Desa Pekalongan, Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur, telah menuai hasilnya.
Di lahannya seluas 1.200 meter persegi yang terbagi dalam dua lokasi, kini ada 150 batang durian monthong berbagai usia.
Tanaman yang berusia 4--5 tahun, kini sedang berbuah lebat. "Tahun ini memang produktivitasnya meningkat dibanding dengan tahun lalu, harapannya memang seperti ini, dari tahun ke tahun terus ada peningkatan," ujar Dalno di kebunnya di Desa Gantiwarno, Kecamatan Pekalongan.
Setiap batang pohon memiliki 30--50 buah dengan bobot buah 4--8 kg/buah. "Untuk buah yang super, bobotnya bisa mencapai 10 kilogram, tapi memang agak jarang," ujarnya saat menunjukkan buah durian yang paling besar.
Untuk memasarkannya, Dalno tak perlu bingung karena selama ini durian monthongnya sudah dikenal rekan-rekannya yang biasanya datang sendiri untuk menikmati buah ini di kebun atau membawa pulang sebagai oleh-oleh. "Bahkan, kini sudah ada orang yang memesan buah dengan memberikan uang jaminan. Mungkin takut tidak kebagian," tambah pria yang tinggal di Jalan Nurul Iman ini. Kini, Dalno menjual durian monthong miliknya Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.
Tak hanya buah, kenalannya yang datang juga banyak yang mencari bibit monthong untuk ditanam. "Bibit durian monthong juga bisa menjadi tanaman hias, karena meski ukurannya pohonnya lebih kecil, durian ini sudah bisa berbuah lebat dan sedap dipandang," tambahnya.
Bagi warga yang berminat membudidayakan durian monthong, Dalno juga berharap mereka segera membuka lahan, mengingat pasar yang masih sangat luas dan menjanjikan di masa mendatang.
Di rumahnya, Dalno juga aktif memproduksi bibit durian monthong. Karena permintaan bibit durian jenis ini juga cukup tinggi. Bibit yang dijual Dalno merupakan bibit yang dihasilkan dari proses okulasi, antara bibit lokal dan bibit durian monthong.
Ia mengungkapkan kini banyak penjual bibit durian monthong atau bibit durian dari jenis lain yang menjajakan bibitnya. Namun, tidak mudah mendapatkan bibit durian monthong yang baik. Dibutuhkan beberapa persaratan, salah satunya, bibit merupakan hasil okulasi dari pohon durian monthong yang sudah terbukti produktivitasnya.
Untuk menghasilkan bibit yang baik dibutuhkan waktu dan proses yang panjang. Begitu pula dalam perawatan bibit saat ditanam di lahan.
Untuk hasil maksimal, menurut Dalno, selain dari keaslian bibit, juga dibutuhkan perawatan yang baik, berupa pemupukan yang berkala, dan juga pengendalian hama dan penyakit, mengingat durian monthong agak peka terhadap penyakit.
Dalno menjual bibit durian monthong berdasar pada usia bibit dan tingginya. Bibit usia 1 tahun dengan tinggi 60 centimeter dijual Rp10 ribu. Sedangkan bibit usia 2 tahun dengan tinggi 1 meter dijual Rp60 ribu. Tahun ini saja, Dalno telah mampu menjual 15 ribu bibit, yang sebagian besar masuk program pengadaan bibit oleh pemerintah daerah.
Dalno juga tengah berupaya agar pohon durian monthongnya dapat berbuah sepanjang tahun. "Cara ini sudah diterapkan di Thailand, saya pikir hal ini juga bisa diterapkan di sini. Terutama karena nilai jual durian monthong masih sangat tinggi. Apalagi jika sedang tidak musim buah durian. Tapi, masih butuh beberapa tahapan," ujarnya.
Menghasilkan Bibit
Tanaman durian dapat diperbanyak melalui cara generatif (biji) maupun vegetatif--okulasi, setek, maupun sambung tempel.
Untuk mendapatkan bibit yang memiliki karakter yang sama dengnan pohon induk, sebaiknya digunakan cara vegetatif. Selain itu, dengan cara ini, bibit akan lebih cepat berbuah.
Salah satu cara vegetatif yang cukup populer adalah proses okulasi. Bibit yang dihasikan dari biji, ditempelkan dengan mata tunas pohon induk yang dianggap cukup baik. Bibit induk yang akan diambil mata tunasnya, sebaiknya dipilih pohon yang sudah dewasa dan memiliki produktivitas buah tinggi. Sedangkan bibit yang akan digunakan sebagai bahan okulasi atau batang bawah, dapat dihasilkan dari pohon durian yang mana saja.
Dalno mendapatkan biji untuk batang bawah dari pengumpul biji yang memungutnya di jalan-jalan di sekitar penjual buah durian. Pembibitan dimulai dengan menyemai biji di tanah yang dicampur pupuk kandang. Dalno menggunakan perbandingan 1:1 untuk campuran tanah dan pupuk. Tanah digali sedalam 40 cm hingga 50 cm, kemudian dibuatkan parit-parit agar memudahkan melewatkan air yang berlebihan, terutama jika pembibitan dilakukan pada musim penghujan.
Biji ditanam pada kedalaman 2 cm hingga 4 cm dalam posisi mendatar. Penanaman diatur pada jarak 20 x20 cm. Untuk melindungi biji yang disemai. Pada bagian atas bedengan, dapat diberikan paranet atau pelepah kelapa sebagai naungan. Perawatan yang dilakukan adalah penyiraman jika kondisi tanah kering, bisa juga diberikan pupuk tambahan agar memacu pertumbuhan.
Pada usia 1 bulan sejak ditanam, biasanya bibit akan mulai berkecambah. Namun, baru usia enam bulan bibit dapat di okulasi. Proses okulasi dimulai dengan menyiapkan mata tunas dari pohon intuk yang dirasa cukup baik.
Sedangkan untuk batang bawahnya dirontokkan seluruh daunnya. Okulasi dilakukan dengan menyayat bagian batang bawah setinggi 20 cm dari permukaan tanah. Sayatan berbentuk huruf U terbalik, dengan panjang sayatan kurang lebih 2 cm.
Sedangkan untuk mata tunas, disayat dengan ukuran yang lebih kecil dari sayatan pada batang bawah. Setelah sayatan pada batang bawah dipotong, mata tunas baru ditempelkan, kemudian dibalut dengan tali rafia atau plastik khusus--jangan sampai mata tunas tertutup balutan.
Pemeriksaan dilakukan pada 2 pekan atau 3 pekan setelah okulasi. Jika mata tunas berwarna hijau segar, proses okulasi berjalan baik. Sedangkan jika mata tunas berwarna cokelat atau kuning, proses okulasi gagal.
Perawatan lain, yaitu memangkas batang yang terdapat di atas mata tunas hasil okulasi. Selain penyiraman dan pengendalian hama penyakit jika ditemukan. Bibit hasil okulasi biasanya sudah bisa dijual atau ditanam pada usia 1 tahun atau lebih. n SUDIRMAN/R-2
Rabu, 20 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar