LAMPUNG POST
Selasa, 27 November 2007
AGROBISNIS KELAPA SAWIT
Dari Sawit, Syarif Panen Setiap Bulan .
ENAM tahun lalu, Syarif (40) adalah petani yang menanam singkong, kelapa, dan kakao.
Kini, ia adalah salah satu petani kelapa sawit yang sukses.
Mulai tahun lalu, Syarif telah menikmati panen sawit dari kebun yang luasnya sekitar 8 hektare di Desa Margamulya, Kecamatan Bumiagung, Lampung Timur.
Lahan tersebut terletak di tengah areal perladangan di atas perbukitan.
Dari kebunnya, setiap bulan, Syarif bisa panen 7--8 ton. Tanaman itu sendiri sudah mulai panen sejak umur tiga tahun, tapi saat itu hasilnya belum memuaskan.
Kini, karena pohon sawit itu masih rendah, untuk memetiknya cukup dengan kekrek--semacam pisau tajam di bagian ujung berbentuk pipih dan gagangnya terbuat dari besi panjang.
Alat ini biasa digunakan para buruh untuk memanen sawit atau memangkas daun sawit di bagian bawah, seperti yang dilakukan Suwarlan Bewok, buruh lepas bertahun-tahun bekerja di kebun milik Syarif.
Menurut Suwarlan, setiap pohon sawit di sana rata-rata hanya menghasilkan 10--15 kg. Padahal, kalau batangnya baik, bisa mencapai 25 kg. Biasanya, setiap batang mampu panen tiga tandan. Bobot maksimal di kebun ini hanya 30 kg. Akan tetapi, kata Suwarlan, tanaman sawit milik Syarif ini tergolong baik dibanding dengan kebun sawit milik warga lain.
Selain menjadi buruh tetap bersama Purwandi, Suwarlan mengaku pernah ikut menanam kebun dan memelihara tanaman sawit milik Syarif. Untuk mendapatkan pohon yang baik, pemupukan harus diperhatikan. Pupuk yang digunakan, yaitu NPK. Setiap batang, minimal dua kg pupuk kimia. Akan lebih baik lagi kalau ditambah pupuk kandang.
Namun, menurut Suwarlan, untuk membudidayakan sawit perlu modal besar. Bibit saja, setiap batang Rp6.000. Jika menanam di lahan luas, tentu modalnya besar.
Dalam satu hektare, minimal diperlukan 140 batang. Belum lagi biaya menggali lubang untuk diisi pupuk kandang dan pupuk kimia. "Minimal, empat tahun kami belum dapat menikmati hasil dari tenaman kelapa sawit, tapi setelah lima tahun pertama ketika mulai panen besar, hasilnya sudah bisa dirasakan," ujarnya.
Kini, jika setiap bulan Syarif panen 8 ton, dengan harga sawit Rp1.000/kg, dipastikan sudah Rp8 juta yang bisa dikantongi. Lalu, pada puncak panen, bulan Oktober, bisa mencapai 17 ton.
Purwandi, yang juga buruh angkut di kebun sawit milik Syarif ini, menilai menanam sawit tidaklah sulit. "Jika memiliki lahan luas, modal ada, dan tekun pasti berhasil. Akan tetapi, kalau cuma iseng, jangan coba-coba karena bisa dipastikan gagal," ujarnya.
Kini, yang menjadi soal adalah penjualan buah sawit. Syarif hanya memasok pabrik di Bekri, Lamteng. Jika di Bekri antre, sawit dijual ke Kalirejo, Lampung Tengah, pabrik baru yang juga mengolah minyak kelapa sawit. "Untuk menjual satu truk sawit sekitar 9 ton, terkadang kami harus antre sampai empat hari," kata Syarif.
Syarif mengakui walaupun penjualan sulit karena harus antre panjang, kini ia sedang menikmati hasil jerih payahnya. Empat tahun pertama, ia tak menikmati hasil dari kebun sawitnya.
Tanaman selingan seperti jagung dan singkong sangat mengganggu pertumbuhan sawit, sehingga ketika tanaman sawit sudah berumur dua tahun, lahan ini tidak dapat lagi ditanamai tanaman tumpang sari. Namun, kini ia tinggal memetik hasilnya. Hasil panennya pun langsung dibeli agen.
Syarif mengaku mulai tertarik menanam sawit ketika mendengar cerita teman-teman yang lebih dahulu sukses menanam sawit. Enam tahun lalu, sebelum menanam sawit, ia adalah petani jagung dan singkong seperti petani lain.
Setelah memperoleh pengetahuan cukup, ia mencoba menanam satu hektare sawit. Beberapa bulan kemudian, setelah pertumbuhan tanaman sawitnya baik, ia memutuskan menanami semua lahannya seluas 8 hektare dengan kelapa sawit. Ia menggunakan jarak tanam 10--15 meter jarak antara tanaman satu dengan yang lain.
Tiap bibit sawit ditanam dalam lubang satu meter persegi dengan kedalaman 50 cm. "Alhamdulillah, tanaman sawit sudah bisa menjadi tabungan tahunan maupun bulanan untuk anak dan istri saya," kata Syarif.
Menurut Syarif, sebaiknya disediakan pula sarana angkutan dan peralatan panen. Kini, Syarif memanfaatkan gerobak sapi untuk mengangkut hasil panennya.
Setelah tiba di desa, truk siap mengangkut sawit tersebut ke pabrik. "Angkutan kami masih sederhana karena mobil tidak dapat masuk kebun, makanya kami masih mengunakan gerobak sapi," kata Syarif.
n EDDY RIBUT HARWANTO/R-2
Selasa, 19 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar