Rabu, 20 Februari 2008

Itik dan Telur meningkatkan ekonomi pedesaan

LAMPUNG POST
Selasa, 15 Januari 2008

AGROBISNIS ITIK DAN TELUR

Berprestasi karena Itik
BUDI daya itik sebagai salah satu ternak unggas masih tetap menjanjikan keuntungan, baik untuk diambil daging maupun telurnya. Pemeliharaannya pun mudah.
Dengan teknik budi daya semi-intensif, Kelompok Tani (KT) Panca Usaha III, yang berada di Desa Mulyosari, Kecamatan Metro Barat, mampu mendongkrak penghasilan keluarga 22 anggotanya. Bahkan, karena keberhasilannya, kelompok yang membudidayakan itik secara kolektif sejak tahun 2002 ini menjadi juara pertama pada lomba kelompok peternak se-Provinsi Lampung, pada bulan Juli 2007.
Untuk tingkat nasional, melalui lomba kelompok agrobisnis unggas lokal tingkat nasional tahun 2007, Kelompok Tani Panca Usaha III menempati urutan VIII, sehingga mereka mendapatkan bantuan dana dan piagam penghargaan dari Direktorat Jenderal Peternakan RI.
Mulyata (37), ketua kelompok, mengatakan prestasi yang didapat ini tak terlepas dari peran aktif Dinas Pertanian Kota Metro.

"Kini kami tak hanya menghasilkan telur, tapi juga sudah mampu menyedikan bibit untuk dijual, pembuatan telur asin, penyediaan daging itik, hingga menjual mesin tetas telur itik," ujar Mulyata.
Dari 2.000 ekor itik tahun 2002, itik kelompok ini telah berkembang menjadi lebih dari 7.000 ekor yang setiap hari mampu menghasilan paling sedikit 4.000 butir telur. "Bahkan jika sedang memasuki panen raya, produksi telurnya dapat mencapai 6.000 butir per hari," kata Mulyata.
Itik-itik ini dipelihara semi-intensif, bergantung pada musim. "Pada dasarnya itik memang merupakan hewan yang tidak bisa jauh dari air, maka dalam memeliharanya kita juga harus memperhitungkan ketersediaan air," ujarnya.

Saat musim kemarau, itik dikandangkan kemudian diberikan pakan buatan dan perawatan secara intensif. Cara ini lebih menguras modal karena biaya pembelian pakan cukup besar.
Namun, melalui bantuan pemerintah pusat, kelompok ini telah memiliki mesin giling pakan dan berbagai mesin lain, termasuk mesin penetas, sehingga ongkos produksi tidak terlalu besar lagi.
Untuk menambah penghasilan anggota, pada musim kemarau juga dilakukan pembibitan itik menggunakan mesin penetas. "Ketika musim kemarau memang tingkat keberhasilannya cukup tinggi karena jarang ada penyakit," ujar Mulyata.
Memasuki musim hujan, kegiatan usaha difokuskan pada produksi telur dengan menggembalakan itik di areal persawahan yang sudah panen. Teknik ini sangat menguntungkan karena produktivitas telur itik sangat tinggi, sedangkan peternak tak memberikan pakan tambahan. Namun, ada biaya untuk memindahkan itik dari areal persawahan yang satu ke tempat lain.

Kini, ujar Mulyata, permintaan akan bibit itik sedang meningkat. Sebanyak 15 unit mesin penetas berkapasitas 300 butir telur yang di miliki kelompok ini, mampu menghasilkan 10 ribu lebih bibit itik. "Dengan masa penetasan 28 hari, bibit itik sudah bisa dijual pada usia 1--5 hari. Jika dirawat dengan baik, itik sudah bisa bertelur pada usia 5 bulan dengan harga jauh lebih tinggi," ujar Mulyata.
Selain digunakan kelompok sendiri, bibit itik yang dihasilkan juga dijual kepada masyarakat atau untuk memenuhi proyek pemerintah pengadaan bibit itik. "Kalau masyarakat umum biasanya pesanannya hanya ratusan, sedangkan proyek pengadaan bisa mencapai ribuan," ujar Mulyata.
Kelompok tani ini menjual bibit sesuai dengan masa pertumbuhan. Bibit usia 1--5 hari dijual Rp6.500, usia 1--4 bulan antara Rp20 ribu dan Rp30 ribu, sedangkan bibit yang sudah siap bertelur Rp35 ribu hingga Rp37 ribu.
Mulyata optimistis budi daya itik ini makin berkembang. Pasalnya, harga telur itik meningkat. Tahun lalu harga telur itik mentah masih Rp700 sedangkan telur asin Rp1.000. Sekarang, telur mentah Rp1.000 dan telur asin Rp1.500. Ditambah lagi pasar telur itik masih sangat luas. n SUDIRMAN/R-2

Tidak ada komentar: